5 Komunitas Pemerhati Pendidikan di Sul-Sel

 
0

Di jalan-jalan ibu kota hingga ke pelosok-pelosok desa di sulawesi selatan, masih banyak dijumpai anak-anak jalanan dan anak-anak putus sekolah. Bahkan banyak di antara mereka yang tergolong buta aksara. Sebagaimana dilansir dari gosulsel.com, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menyebutkan masih ada 22.163 penduduk kota Makassar tergolong buta aksara. Jumlah ini berkurang dibanding tahun 2012 yang berjumlah 22.443.

Jika ditelisik asal mulanya, maka akan ditemukan sedikit banyak fakta bahwa kondisi memprihatinkan ini berakar dari situasi pendidikan dan kondisi ekonomi masyarakat sehingga banyak anak-anak yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan yang sudah menjadi hak mereka.

Di tengah krisis moral, saat kebanyakan orang memilih bersikap netral dan abai terhadap gejala sosial yang terjadi di sekitar mereka, masih ada sekelompok kecil orang yang memelihara kepekaan sosialnya dan bertindak untuk kepentingan orang banyak, menjadi pemerhati pendidikan anak bangsa, dan volunteer kemanusiaan.

Di kalangan minoritas itu, ada beberapa orang yang menyisihkan sebagian waktu, tenaga, bahkan materinya untuk memberi kesempatan bagi anak-anak indonesia terutama mereka yang kurang mampu atau yang berada di pelosok-pelosok untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Mereka rela menjadi volunteer atau relawan demi memberi pelajaran atau sekadar menyemangati anak-anak dengan tujuan menginspirasi mereka untuk menumbuhkan semangat belajar dan upaya kuat mencapai cita-cita demi masa depan yang lebih cerah.

Di Makassar khususnya, setidaknya ada 5 komunitas yang mewadahi para volunteer pendidikan untuk berbagi dan belajar bersama anak-anak usia sekolah berbagai tempat, mulai dari jalanan, pulau terpencil hingga pelosok-pelosok desa di seluruh Sulawesi Selatan.

1. Lentera Negeri (LN)

Lenteran negeri
Sumber : lenteranegeri.org

Komunitas yang bergerak dengan slogan “Bersama Berbagi Untuk Anak Negeri” ini adalah lembaga sosial yang peduli terhadap perkembangan pendidikan anak yatim dan anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Berkonsentrasi dalam mengawal anak-anak Indonesia agar tidak putus sekolah, memiliki karakter dan mempunyai masa depan yang cerah.

Lentera negeri menjadi wadah untuk mengembangkan diri, menyokong anak-anak bangsa untuk dapat membangun kepekaan sosial bagi lingkungannya serta turut berkarya bagi bangsanya. Selain itu, Lentera Negeri juga memberikan pengayaan pendidikan untuk membangun kepedulian terhadap masyarakat kecil yang ada di sekitarnya untuk kebaikan bersama.

Lentera Negeri Berdiri atas pondasi Visi menjadi Lembaga penyantun dan pendamping yang akuntabel dan tepat sasaran untuk anak yatim dan fakir miskin. Dan untuk mewujudkan Visi itu, Lentera Negeri memiliki tiga misi penting, yakni :

  1. Menjadi fasilitator terpercaya bagi para donatur terhadap anak yatim dan fakir miskin.
  2. Mengembangkan potensi dan membentuk karakter anak bangsa untuk masa depan yang lebih baik.
  3. Menumbuhkembangkan kepedulian masyarakat terhadap masalah sosial.

Selain Visi dan Misi, Lentera Negeri juga memiliki komitmen yang telah disepakati bersama, yakni :

  • Lentera Negeri berusaha menjadi lembaga sosial yang transparan, terpercaya dan tepat sasaran.
  • Lentera Negeri tidak menerima bantuan dari partai politik, afiliasi partai politik, dan untuk kepentingan politisi tertentu.
  • Berfokus pada pendidikan anak-anak Indonesia yang kurang beruntung (yatim dan fakir miskin) agar tidak putus sekolah, memiliki karakter dan mempunyai masa depan yang cerah.

2. Sokola Kaki Langit

Sokola kaki langit
Sumber : facebook.com/sokolakakilangit/

Komunitas mengajar yang didirikan oleh Andi Mey Kumalasari Juanda sejak 28 Desember 2014 ini lebih dikenal sebagai gerakan peduli pendidikan untuk anak-anak di daerah terpencil.

Berawal dari keresahannya atas pengalaman pribadi saat mengunjungi desa terpencil sejak delapan tahun sebelum akhirnya Sokola terbentuk, di mana ia mendapati anak-anak usia sekolah di daerah itu berada dalam kondisi “Jauh dari kata mendapatkan pendidikan yang layak”. Ditambah lagi desa-desa terpencil yang secara sarana dan pra sarana belum memadai, mereka juga kekurangan tenaga pengajar di sekolah-sekolah yang ada di desa tersebut.

Sokola yang mengusung slogan Education Nature & Fun ini terealisasi dengan visi ingin mencerdaskan anak-anak yang berada di daerah terpencil dengan misi menanamkan minat baca pada anak-anak sejak dini. Misi ini serupa membangun program literasi kecil dari kampung.

Program utama Sokola Kaki Langit adalah mengirim relawan pengajar setiap bulannya ke desa untuk mengajar dan mengabdi selama lima hari, dan berjalan selama setahun penuh untuk satu desa binaan, kemudian akan berpindah ke desa binaan lainnya dan begitu seterusnya.

“Tentang komitmen, sekolah menganut sistem relawan, di mana semua bisa berpartisipasi mengajar ke desa dengan sukarela. Tentu saja dana yang diperoleh juga dana pribadi dan sebagiannya berasal dari Donatur yang berdonasi baik dalam bentuk materi, buku bacaan anak, alat tulis, seragam, dan perlengkapan sekolah lainnya.” Tutur Mey saat dihubungi via Whatsapp, 12/06/2017.

3. Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ) Makassar

Komunitas Anak Jalanan
Sumber: kpajmakassar.org

Komunitas yang pertama kali dibentuk oleh seorang mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2004 Universitas Hasanuddin Makassar, bernama Nur Fajri Arifin, yang pada akhirnya didaulat menjadi ketua KPAJ ini berdiri sejak 15 Februari 2010 melalui media sosial facebook merupakan komunitas yang terbentuk dari keresahan melihat anak-anak jalanan, yang dalam usia sekolah, namun lebih banyak menghabiskan waktunya turun ke jalan untuk mencari sesuap nasi. Padahal tidak jarang dari mereka mempunyai potensi besar dan mereka juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran seperti halnya anak-anak yang lain.

Komunitas yang berawal dari visi yang mulia berangkat dari titik kepeduliaan sekarang telah memiliki sukarelawan/volunteer pengajar yang berasal dari berbagai universitas dan profesi pekerjaan ini terbuka untuk umum dan mengajak siapa saja yang merasa prihatin melihat kondisi anak jalanan dan ingin memberikan kontribusi nyata.

4. Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI)

SIGI
Sumber : nuralmarwah.com/jebakan-sempurna-dari-sigi-makassar/

SIGI adalah sebuah gerakan independen, bebas, tidak terikat oleh golongan dan organisasi manapun. Siapapun yang punya passion dan visi yang sama untuk berbagi kemanfaatan dengan sesama, boleh bergabung.

Komunitas yang memiliki Visi untuk menjadi sebuah gerakan berbagi yang berbasiskan jaringan pertemanan di seluruh Indonesia bahkan dunia ini terus berkelanjutan. Ke depannya SIGI membantu anak-anak/adik-adik kecil yang kurang mampu yang kemudian akan menjadi adik asuh di komunitas sersebut. Yang kemudian akan diberikan bantuan berupa pendidikan melalui beberapa program.

Program utama SIGI ialah Receh Kahuripan, yakni menabung dan menyisihkan, uang receh 100, 200, 500, 1000, 2000, 5000, 10.000, 20.000, 50.000, 100.000 di celengan SIGI sambil mengajak sahabat-sahabat lainnya ikut program ini juga. Yang nantinya setiap akhir atau awal bulan akan dikumpulkan di tempat yang ditentukan. sasaran donasi ini nantinya akan disepakati bersama, yang jelas untuk membantu anak-anak yang membutuhkan.

Selain Program utama, SIGI juga memiliki Program Periodik, yakni nobar dengan anak yatim, gathering/silaturahmi ke tiap regional untuk melakukan travelling, Hiking, ngebolang bersama. Dan masih banyak program lainnya yang menunjang semua visi kemanusiaan yang dilakukan komunitas ini.

5. Sekolah Rakyat KAMI

Sekolah Rakyat Kami
Sumber : facebook.com/1677457572469980/

Pendidikan untuk semua, inilah yang menjadi dasar didirikannya Sekolah Rakyat KAMI. Bergerak pada isu pendidikan alternatif, Sekolah Rakyat KAMI (Komunitas Anak Miskin) mendampingi anak-anak pemulung yang terletak di pintu nol Politeknik Negeri Ujung Pandang atau belakang workshop Unhas (pemukiman pemulung). Sejak didirikannya pada tahun 2007 sampai hari ini, sekitar 30an anak pemulung dengan rutin bermain dan belajar bersama di sebuah gubuk kecil, usang, namun nyaman yang sering mereka sebut dengan nama Sekolah. Karena di Sekolah rakyat KAMI, tidak ada sekat formal yang membatasi anak untuk berlajar.

Pada awalnya ini bukanlah komunitas, hanya mengajar baca-tulis dan mendampingi anak-anak pemulung dan tidak rutin. Namun seiring berjalannya waktu, hingga saat ini.

Sekalipun gerakan-gerakan itu masih termasuk skala kecil, namun para volunteer berharap dengan sumbangsi kecil mereka dapat menciptakan perubahan jika dilakukan terus menerus tanpa putus. Komunitas yang berisikan orang-orang yang memiliki keresahan dan keperihatinan yang sama terhadap pendidikan anak bangsa, terutama kepada anak-anak yang kurang beruntung dan mengalami kesenjangan kesempatan, di mana mereka harus merasakan keterbatasan dan kehilangan hak yang seharusnya mereka dapatkan sebagai warga negara Indonesia, yakni pendidikan yang layak. [Editor: ilayahya]