Fakta tentang Anak Sastra Jepang Unhas

 
0

Sastra Jepang Unhas adalah satu-satunya jurusan Sastra Jepang di Sulawesi Selatan. Walaupun banyak yang memandang sebelah mata jurusan ini karena dianggap memiliki peluang kerja yang sedikit, namun sebenarnya mereka yang menempuh pendidikan di bidang ilmu ini memiliki nilai plus tersendiri. Salah satunya adalah memiliki skill berbahasa asing selain bahasa Inggris, yaitu bahasa Jepang.

Namun, tak jarang seorang anak Sastra Jepang Unhas akan terlibat percakapan; “kuliah di mana?” | “Di Unhas” | “Wow.. Unhas“. Kemudian pertanyaan berlanjut, “Fakultas apa? | “Fakultas Sastra” | “Oohh..” (dengan nada datar). Karena makin kepo, si penanya akan melanjutkan pertanyaannya, “Sastra apa?” | “Sastra Jepang” | “Wuiihhh.. Sastra Jepang. Berarti jago bahasa Jepang dong?”. Nah pertanyaan terakhir inilah yang beban menjawabnya agak berat, ibarat menjawab pertanyaan “Kapan nikah?” #eehh. Seorang anak sastra Jepang yang telah mahir atau jago berbahasa Jepang, mungkin akan menjawab; “Iya, lumayan jago sih” atau “ah gak juga” (sebenarnya jago tapi tidak ingin menyombongkan diri). Tapi bagi yang tidak atau belum terlalu jago, dengan setengah hati mungkin akan menjawab; “heheheh tidak jago-jago amat sih. Tapi bisalah…“.

Tak sedikit dari mereka yang mendengar kata ‘Sastra Jepang’ pastinya akan bertanya-bertanya, “Kuliah di Sastra Jepang, belajar apa aja sih?”, “Masuk Satra Jepang harus ada dasar bahasa Jepang dari SMA yah?”, “Anak Sastra Jepang mah enak, gak harus melakukan penelitian ini-itu kayak kita yang anak Exact”, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dilontarkan kepada anak Sastra Jepang.

Di jurusan Sastra Jepang, selain belajar bahasa, budaya dan sejarah Jepang, mereka juga mendalami ilmu analisis wacana yang pada umumnya identik dengan anak sastra. Mereka yang masuk Sastra Jepang tidak semuanya memiliki background pernah belajar bahasa Jepang di bangku SMA. Karena di semester pertama perkuliahan, mereka akan diberikan pelajaran dasar-dasar bahasa Jepang. Selain itu, anak Sastra Jepang memang tidak pernah melakukan penelitian-penelitian yang berbau ilmiah seperti yang anak exact lakukan. Namun bila berbicara mengenai tingkat kesulitan mata kuliah, Anak sastra Jepang juga mengalami kesulitan, apalagi saat menghapalkan kanji-kanji yang jumlahnya ada ribuan itu. Namun karena dijalaninya dengan senang hati, maka yang orang lihat adalah anak Sastra Jepang kuliahnya gak sulit. Padahal sebenarnya di malam hari, mereka juga pusing karena harus mempelajari dan mendalami bunpou (grammar), Kanji, dll.

Terlepas dari semua itu, mahasiswa dari jurusan ini malah sangat menikmati jalan hidupnya sebagai anak Sastra Jepang Unhas. Dan berikut adalah beberapa fakta  mengenai anak Sastra Jepang Unhas.

1. Pertama kali mendengarkan native speaker Jepang seperti sedang menonton Anime tanpa Subtitle

Mahasiswa belajar
Sumber: facebook.com/vivian.leonardo.04

Bila dalam pelajaran bahasa Inggris ada yang dinamakan listening atau mendengarkanmaka di Sastra Jepang juga ada sebuah mata kuliah sejenis itu yang dinamakan Choukai. Dan semua mahasiswa baru Sastra Jepang Unhas yang mengikuti mata kuliah ini untuk pertama kalinya akan menunjukkan ekspresi yang lucu ketika diperdengarkan percakapan dari native speaker Jepang.

Ada yang hanya melongo gak ngerti dan kemudian mengetawai dirinya sendiri yang benar-benar bingung dengan apa yang sedang didengarnya. Ada juga yang seolah nyimak kemudian mengangguk-ngangguk biar dosennya mengira bahwa dirinya mengerti. Padahal sama dengan yang lain, sebenarnya dia juga gak ngerti. Dan beberapa saat kemudian akan ada yang mengatakan; “Kita seperti lagi nonton anime tanpa subtitle“.

Namun seiring berjalannya waktu, mereka jadi terbiasa dengan itu dan menjadikan mata kuliah ini sebagai salah satu mata kuliah favorit mereka.

2. Sering dipandang sebelah mata

menganggap remeh
Sumber: hipwee.com

Tak dapat dipungkiri, Sastra Jepang adalah salah satu jurusan yang banyak dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Mengapa? Karena menurut Mereka, lulusan Sastra Jepang mau jadi apa nantinya?  Kemudian lapangan kerja untuk lulusan Sastra Jepang juga sangat minim. Namun sebenarnya, ada banyak peluang kerja bagi lulusan Sastra Jepang yang tidak disadari oleh orang awam. Seorang lulusan sastra Jepang selain bisa menjadi penerjemah dan pengajar, mereka juga bisa bekerja di Konsulat Jenderal Jepang atau bekerja di kedubes.

Selain dipandang sebelah mata karena lapangan pekerjaan untuk lulusan ini masih kurang,  banyak juga yang mengira bahwa mereka yang kuliah di jurusan ini adalah karena mereka lulus di pilihan ke tiga. Padahal sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu. Mereka yang berkuliah di Sastra Jepang Unhas tidak semuanya karena lulus di pilihan ke tiga. Namun ada juga yang masuk di jurusan ini lewat jalur non-subsidi atau yang biasa dikenal dengan JNS.

3. Tidak semua anak sastra Jepang suka Anime dan Manga

tidak semua anak sastra jepang suka anime
Sumber: sunimu.deviantart.com

Jepang memang identik dengan Anime dan Manga. Tapi faktanya, tidak semua anak Sastra Jepang suka Anime dan Manga. Di saat yang lain membahas tentang episode terbaru Anime favorit dan Manga favorit mereka seperti One Piece, ada beberapa anak Sastra Jepang yang malah cuek dan tidak tertarik dengan itu.

Selain itu, banyak wanita dari jurusan ini yang lebih menyukai menonton drama korea ketimbang dorama (sebutan untuk film berseri Jepang).

4. Tidak semua anak Sastra Jepang jago berbahasa Jepang

tidak semua anak sastra jepang jago bahasa jepang
Sumber: ecc-nihongo.com

Jangan mengira bahwa mereka yang berkuliah di Sastra Jepang sudah pasti semuanya jago berbahasa Jepang. Tiap angkatan tentunya akan ada yang jago, namun hanya beberapa. Namun, Walau yang lainnya tidak jago, tapi semua anak Sastra Jepang pastinya bisa berbahasa Jepang. Dan ini adalah salah satu nilai plus dari mahasiswa jurusan ini karena memiliki skill berbahasa asing selain bahasa Inggris.

5. Peluang ke Jepang lebih besar

berpeluang ke jepang
Sumber: facebook.com/tchnselz

Namanya juga Sastra Jepang, yah pastinya peluang ke Jepangnya juga lebih besar. Di jurusan ini sering ada program baik itu dari pemerintah dalam negeri maupun dari pemerintah Jepang. Dan program pertukaran mahasiswa ini ada yang berkisar setahun seperti program dari pemerintah Jepang yaitu  Monbukagakusho dan ada juga program ke Jepang yang hanya selama 2 minggu seperti program Jenesys.

Intinya, ketika berkuliah di Sastra Jepang, peluang untuk menginjakkan kaki di Negeri Sakura bisa lebih besar selama mahasiswanya memiliki niat dan keinginan yang kuat untuk itu.

 6. Memiliki banyak teman Nihonjin

Mahasiswa Jepang
Sumber: facebook.com/minamino.ei

Nihonjin adalah orang Jepang. Sebagai anak Sastra Jepang, sudah sewajarnya jika memiliki banyak teman Nihonjin. Karena jurusan ini sering kedatangan mahasiswa atau pengajar dari Jepang. Walau kedatangan mereka singkat, namun pertemanan anak Sastra Jepang dan Nihonjin tersebut tetap berlanjut melalui sosial media.

 7. Paling bahagia melihat qualifikasi lowongan kerja yang bertuliskan ‘Semua jurusan’

Semua Jurusan
Sumber: marksbrown.com

Yang membuat anak Sastra Jepang galau setelah lulus adalah persoalan mencari kerja. Permasalahannya di mana? Ada pada alumninya, yang faktanya tidak semua lulusan Sastra Jepang ingin menjadi pengajar ataupun penerjemah. Maka dari itu, ketika terdapat lowongan kerja, seorang alumni Sastra Jepang akan sangat bahagia ketika melihat qualifikasi yang bertuliskan ‘Semua Jurusan’.

Nah itulah beberapa fakta mengenai Anak Sastra Jepang Unhas. Gaes, jangan lagi yah sering menganggap remeh jurusan kuliah apapun. Karena pada dasarnya, tiap jurusan perkuliahan itu memiliki nilai plusnya masing-masing yang mungkin gak Kalian sadari.

Selain kepada-Nya, jangan terlalu percaya pada siapapun. Follow me on Instagram: @ilayahya_