Logat Makassar Bisa Tonji

 
0

Sejak era kolonial, kota Makassar telah dikenal sebagai kota pelabuhan yang sibuk oleh hiruk pikuk pendatang dari berbagai penjuru nusantara bahkan dunia. Banyak dari pendatang tersebut yang merupakan pedagang dari etnis Jawa, Melayu, Cina, Arab, Portugis dan lain sebagainya memilih untuk menetap di kota ini. Sementra itu, Sejak berabad silam, Makassar telah dihuni oleh suku pribumi yang lebih dikenal dengan nama Suku Bugis-Makassar. Asimilasi berbagai macam etnis ini telah menciptakan budaya yang unik dan khas yang hanya dapat ditemui di kota Makassar dan sekitarnya. Salah satu keunikan budaya tersebut adalah Logat atau Dialek Makassar. Awal mulanya dialek ini tercipta karena adanya ‘gap’ antara berbagai macam suku di Makassar yang mempunyai bahasa mereka masing-masing.

Jika Anda berkunjung ke Makassar, hal pertama yang akan Anda perhatikan dari orang makassar adalah bahasa sehari-hari mereka. Logat Bugis-Makassar secara luas digunakan dalam percakapan informal masyarakat dari berbagai golongan di makassar. Berbeda dengan kebanyakan dialek di Indonesia yang hanya mengubah penekanan dan intonasi Bahasa Indonesia, dialek makassar ini banyak menambahkan kosakata dari bahasa bugis-makassar dan ditambah lagi dengan adanya imbuhan partikel seperti mi, ji, mo, toh dan lain-lain. Belum diketahui pasti bagaimana struktur dari dialek ini namun penuturnya dapat memahami satu sama lain karena telah terbiasa. Berikut ini adalah beberapa hal menarik yang perlu Anda ketahui mengenai Logat Bugis-Makassar yang akan sangat berguna jika Anda berencana untuk berkunjung atau menetap di Makassar.

3 Poin Penting Tentang Bahasa Makassar

1 Imbuhan/Partikel

Imbuhan Makassar via cdn.images.babe.co.id

Imbuhan-imbuhan seperti mi, ji adalah ciri khas utama dari dialek makassar. Bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Makassar imbuhan ini dianggap sangat membingungkan. Contohnya seperti dalam kalimat ‘Makan mi itu’ yang berarti ajakan untuk makan yang sering kali disalah artikan sebagai ajakan memakan makanan ‘mie’ bagi orang yang baru belajar bahasa makassar. Berikut adalah beberapa penjelasan serta contoh dari imbuhan-imbuhan tersebut:

Mi bisa digunakan untuk mempersilahkan

Contoh: “Makan mi” (“Silahkan di makan”)

dan bisa juga digunakan sebagai penegasan

Contoh: “Tinggi mi” (“Sudah Tinggi”)

Mi bisa digunakan untuk mempersilahkan

Contoh: “Makan mi” (“Silahkan di makan”)

dan bisa juga digunakan sebagai penegasan

Contoh: “Tinggi mi” (“Sudah Tinggi”)

Pi memiliki banyak arti salah satu fungsi nya adalah sebagai penunjuk waktu

Contoh: “Sebentar malam pi” (“Nanti malam saja”)

dan bisa juga digunakan untuk mengungkapan sesuatu yang kurang

Contoh: “Lima orang pi” (“Masih kurang 5 orang lagi”)

Ji atau Ja secara harfiah berarti “saja” yang bisa digunakan sebagai tanda tanya

Contoh: “Satu Ji?” (“Satu Saja?”)

dan bisa juga digunakan untuk meyakinkan lawan bicara

Contoh: “Gampang Sekali ji” (“Sangat Gampang”)

Ki’ adalah singkatan dari Kita(‘) yang merupakan bentuk sopan dari kata Kamu. Biasanya digunakan untuk merujuk kepada lawan bicara yang lebih tua atau dihormati.

Contoh: “Sama Siapaki?” (“Anda bersama siapa?”)

Ko adalah singkatan dari Kau yang berarti Kamu. Imbuhan ini fungsinya sama seperti Ki’ namun digunakan untuk lawan bicara yang sebaya.

Contoh: “Dimana ko?” (“Kamu dimana?”)

Do’ merupakan singkatan dari bodo’/bodoh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang dan hanya dapat digunakan pada lawan bicara yang sebaya karena artinya yang kasar

Contoh: We ambil mi itu do’ (“Ambil saja itu”)

Na adalah bentuk singkat dari nya artinya pun kurang lebih sama seperti nya dalam bahasa Indonesia

Contoh: “Besar na rumah nu” (“Besar nya rumah mu”)

We adalah sapaan dalam bahasa makassar dan biasa juga digunakan sebagai awalan dari sebuah kata.

Contoh: “We nda ke kampus ko?” (“Hai kamu gak ke kampus?”)

Kodong adalah ungkapan kesedihan dan kekecewaan yang secarah harfiah berarti “Kasian”

Contoh: “Jangko Pukul ka kodong” (“Jangan pukul aku”)

Tawwa biasa digunakan untuk memuji seseorang

Contoh: “Deh Jagona Tawwa” (“Dia hebat”)

Bede’ yang dapat diartikan sebagai “Katanya” biasa digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau ketidak jelasan dari sebuah informasi

Contoh: “Weh ada bede’ pencuri tadi malam” (“Katanya ada pencuri tadi malam”)

Mami fungsinya sama seperti Pi namun lebih spesifik mengungkapkan sesuatu yang kurang

Contoh: “Lima menit mami” (“Tinggal lima menit”)

Imbuhan tersebut selalu bertambah dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Penggunaanya pun bisa dibilang sangat bebas dan versatil. Beberapa imbuhan juga dapat digabungkan seperti Mo + Ko, Ji + Ko.

2 Variasi

Variasi Kata via bagooli.com

Karena tidak adanya struktur dan aturan khusus dalam Dialek makassar maka setiap orang mempunyai versi mereka masing-masing. Dari mulai dialek halus hingga yang mendekati bahasa Makassar asli. Ada juga yang mencampur beberapa kosakata dari bahasa Indonesia dan Bahasa Makassar dalam satu kalimat.

Contoh: Apa Ko bikin tadi malam di rumah nu, Apa mubikin tadi malam dirumahmu, Apa Nupare’ tadi malam di balla’ nu (Apa yang kau lakukan semalam di rumahmu)

Hal tersebut tidak serta merta menimbulkan kebingungan bagi orang Makassar. Meskipun sangat banyak variasi dari sebuah kalimat, seorang penutur asli dapat dengan mudah memahami satu sama lain.

3 Okkots

Kata-kata Okkots Makassar via 2.bp.blogspot.com

Dalam bahasa makassar dikenal istilah okkots yang merupakan penambahan atau penghilangan huruf dari sebuah kata pada saat berbicara. Okkots adalah bentuk penyimpangan bahasa yang lazim terjadi di masyarakat. ‘Korban’ dari ke-okkots-an ini biasanya adalah orang-orang yang logat makassar nya telah mendarah daging dan memiliki keterbatasan dalam berbahasa Indonesia namun tetap saja memaksakan untuk Berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Penambahan huruf G pada kata yang berakhiran N adalah salah satu contohnya, seperti Ikan menjadi IkanG, Makan menjadi MakanG. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Bugis-Makassar tidak ada kata yang berakhiran N melainkan NG. Ada juga bentuk okkots yang menghilangkan huruf dari sebuah kata, seperti kata Panjang menjadi Panjan. Mereka yang mengalami okkots ini biasanya dijadikan bahan cemoohan oleh orang-orang di sekitarnya.

Nah itulah tadi beberapa hal menarik seputar Logat makassar. Apakah Anda sedikit terbantu atau malah semakin bingung? Jika Anda masih bingung kami sarankan untuk menetap di makassar selama beberapa bulan. Kami jamin tidak akan butuh waktu lama untuk terbiasa menggunakan logat makassar jika Anda turun langsung ke lapangan.

Seorang Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar yang akrab disapa Ivanden. Telah aktif menulis sejak duduk di bangku SMA namun belum memiliki karya yang dipublikasikan. Selain Menulis ia juga mempunyai minat di bidang Fotografi.