Menguak Kembali Jejak Penyebaran Islam Pertama di Kabupaten Pinrang - Bagooli.com
Your Theme License is INVALID or EXPIRED

Menguak Kembali Jejak Penyebaran Islam Pertama di Kabupaten Pinrang

 
0

Menguak Kembali Sejarah Islam adalah Mengingatkan Kembali Kejayaan Masa Lalu, Membangkitkan Nawacita semangat untuk berjuang Menegakkan Islam

Sulawesi Selatan memiliki 3 Kota dan 21 Kabupaten, dan salah satunya adalah Kabupaten Pinrang. Kabupaten ini memiliki batas-batas; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang (SIDRAP) dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat. Pinrang memiliki luas wilayah 1.961,77 km2 yang terbagi ke dalam 12 Kecamatan yang meliputi sekitar 65 desa, 39 kelurahan. Dan terdiri atas 86 lingkungan serta 189 dusun. Kondisi Pinrang, memiliki garis pantai sepanjang 93 Km dengan areal pertambakan sepanjang pantai. Selain itu, dataran rendah Pinrang didominasi oleh areal persawahan.

Pinrang memiliki kisah sejarah yang unik tentang awal mula berdirinya kota ini. Selain itu, Pinrang juga memiliki jejak-jejak sejarah perkembangan Islam. Seperti halnya perkembangan Islam di 23 kabupaten lainnya, Pinrang memiliki cerita unik dan kisah tersendiri akan penyebaran Islam pertama di Kabupaten ini. Masuknya Islam di daerah ini berawal dari salah satu Kecamatan yang ada di Pinrang, yaitu Lanrisang. Cikal bakal nama kecamatan ini bermula pada Batu Ceper (Mallepa) yang disebut Lasanrang.

Sekilas Mengenai Lasinrang

Lasinrang - bagooli.com
Sumber: Pulaunesia

Sebelum agama Islam masuk ke Pinrang, Batu Ceper ini menjadi objek sesembahan masyarakat setempat dan diyakini oleh mereka memiliki kekuatan gaib yang dapat mengatur alam dan menentukan nasib manusia. Lanrisang (Jampue) dahulu kala merupakan salah satu pusat kerajaan yang memiliki kekuasaan atas pengaruh wilayahnya sendiri.

Kerajaan tersebut tergabung dalam persekutuan Addatuang Sawitto, pada masa penjajahan belanda, tahun 1905 mendapatkan system pemerintahan disebut dengan Distrik Swapraja Sawitto). Wilayah kekuasaan Lanrisang pada waktu itu meliputi hamper sebagian barat Addatuang Sawitto yang berhadapan pas dengan selat Makassar. Posisi Lanrisang dalam persekutuan addatuang Sawitto sangat penting, karena terletak di daerah pantai (Selat Makassar), inilah kuncinya mengapa Lanrisang menjadi pintu gerbang masuk ke wilayah Sawitto dari arah barat atau selat Makassar. Sejarahnya pada saat lanrisang menjadi Bandar (pelabuhan) yang terkenal pada masanya banyak disinggahi pedagang luar yang berasal dari berbagai Negara mencari rempah-rempahan di Indonesia Timur.

Lanrisang pada masa itu memiliki perahu besar yang diberi nama “Sikonyarae” dan pada masa kerajaan Lammappasompa putra dari Latanricau (Datu Lanrisang) yang bergelar petta Melae (Petta Matinroe Riamale’na) sekitar tahun 1609, awal masuknya agama islam di kota Pinrang.

Penyebaran Islam di Kabupaten Pinrang

Hadirnya agama Islam bersamaan dibangunnya sebuah tempat ibadah (mesjid) yang cukup sederhana yang disebut Lenna Bawang atau Seppo Ritanae dengan ukuran 6X6 Meter yang  diprakarsai dengan nama mesjid Attaqwa. Lokasi banguna ini berada pada di sekitar Kandawarie (Istana Raja) di kampug Kacampi (Jampue).

Pada masa pemerintahan Pawelloi yang bergelar sebagai Datu Lanrisang (awal abad 1700 M), bersama menantunya Paamassangi (Petta Toa) sekaligus pemrakarsa, didirikan lagi mesjid kedua di kampung lerang berdekatan dengan Kandawarie yang akhirnya seiring zaman diganti menjadi Saoraja yang letakknya di sekitar mesjid Attaqwa.

Di depan Mesjid Attaqwa lama tersebut, diletakkan Batu Mallepa (Lanrasang) yang dijadikan sebagai tempat pelantikan dan pengambilan sumpah raja secara turun temurun dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh pemangku adat istiadat, yaitu dengan menyediakan paying, besi, arajang, dan segala perangkat-perangkatnya, termasuk dengan adanya dayang-dayang dan undangan dari kerajaan lain di lokasi proses pelantikan resmi diadakan.

Di tempat yang sama duduklah seorang raja tang akan dilantik (duduk dengan posisi bersila) di atas Lanrasang  (Batu Mallepa) dan mengangkat sumpah dengan menggunakan kostum adat sebagai seorang raja. Batu Mallepa yang diletakkan dalam posisi area mesjid Attaqwa juga menjadi tumpuan setiap jamaah mesjid yang datang untuk melakukan ibadah maupun untuk sekedar membersihkan pekarangan mesjid dan menandakan bahwasanya Batu tersebut tidak memiliki kekuatan lain atau nilai (magic).

Pada saat itu diwaktu yang sama  As Syeck Muhammad Abdullah Afandi yang berasal dari Negeri Yaman menetap di Lanrisang. Adanya keahlian yang dimiliki syek tersebut di bidang agama Islam, diangkatlah beliau menjadi penasehat raja masa itu. Pada masa Fatimah yang bergelar Petta Lerang Arung Jampue memegang tampuk kekuasaan, As syek Muhammad Ali Afandi yang lebih dikenal dengan sebutan nama  Puang Janggo putra Syeck Muhammad Ali Bin Abdullah Afandi diangkat sebagai Qadi (Hakim agama Islam) pada masanya, yang wafat di kampung Jampue sekitar tahun 1815. Setelah wafat kedudukan sebagai Qadi digantikan oleh putranya, yaitu Muhsin Umar yang saat itu berusia 25 tahun yang popular dikenal dengan sebutan Kali Jampu. Namun sang putra tersebut wafat pada hari sabtu 18 syawal 1421 H bertepatan 13 januari 2001.

Hingga saat ini belum ada yang menggantikan beliau sebagai Qadi (Hakim Agama Islam) sehingga  Batu Mallepa yang biasanya digunakan sebagai tempat pelantikan raja tidak berfungsi lagi, terkahir pada pelatikan camat 2006 silam.

Mesjid Tua Attaqwalama

Keadaan Mesjid Attaqwa kini masih terawatt dan tetap dijadikan sebagai tempat ibadah dan tempat berkumpulnya masyarakat Lanrisang untuk melaksanakan dan menyiarkan agama islam. Mesjid tersebut telah beberapa kali direnovasi untuk terus menjaga keutuhan akan mesjid tersebut. Namun peninggalan sejarah dalam proses pendiriannya tetap ada dan bahkan dijadikan sebagai salah satu kearifan sejarah penyebaran Islam pertama di kabupaten Pinrang.

Masjid Tua Attaqwalama - bagooli.com
Sumber: google.co.id/maps

Sebagai mesjid yang penuh dengan sejarah dan mesjid yang pertama kali sebagai tombak penyebaran Islam mengundang penasaran yang tingkat tinggi berbagai kalangan masyarakat, baik dari warga asli Sulawesi selatan maupun dari luar negeri untuk berkunjung dan mendapatkan informasi maupun berita langsung dari kampung Jampue ini. Sarat akan makna sejarah yang terus dan akan selamanya disanjungkan maka pemerintah Pinrang dan masyarakat setempat terus berbondong-bondong melakukan pembangunan pada mesjid ini. Dari 6X6 meter masa silam sekarang telah berubah menjadi Luas tanah mesjid ini berkisar  kurang lebih 700m2  dan luas bangunan sekitar 224 m2 dengan daya tampung jamaah sekitar 300 orang.

Fasilitas di dalam mesjid juga lumayan lengkap, telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang akan meningkatkan ketaqwaan para jamaah. Fasilitas tersebut yakni: adanya Parkir, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/ Genset (persiapan ketika tiba-tiba sedang mati lampu), Kamar Mandi/WC, Tempat untuk berwuduh, Sarana melakukan ibadah.

Adapun berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam mesjid ini sekarang adalah menerapkan adanya Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan dakwah-dakwah Islam atau biasa disebut dengan Tabliq Akbar. Selain itu, Mesjid ini juga aktif menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Berjamaah dengan baik dan nyaman, Sholat Jumatan pada hari Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu dan Sunnah dengan tentram dan sejuk.  Nah itulah jejak-jejak penyebaran Islam dengan mendirikanya mesjid pertama di kabupaten Pinrang provinsi Sulawesi Selatan yang harus kita ketahui dan ingat sepanjang masa sebagai seorang muslim sejati.

Penulis, Peneliti, Pengajar, volunteer, suka tantangan dan petualang.