6 Permainan Tradisional yang Hampir Punah di Makassar

 
0

Kalian yang lahir di tahun 90-an pasti merindukan masa-masa bermain kalian dulu. Rutinitas setelah pulang sekolah tidak jauh-jauh dari; pulang jam 1 siang, makan siang, kemudian tidur siang. Lalu di sore hari saling memanggil di masing-masing rumah teman untuk bermain bersama di lapangan ataupun di depan rumah. Nah, permainan tradisional apa yang sering Kalian mainkan dulu? Apakah bermain Jengkal? Main karet? Kelereng? Dende? Atau Bom? Pastinya Kalian mempunyai permainan favorit masing-masing.

Selain bermain bersama teman, Kalian masih ingat gak sih ketika hari Minggu tiba? Kalian bela-belain bangun pagi dan menunda mandi pagi hanya untuk nongkrong di depan tv buat nonton Conan, Doraemon, Digimon, Pokemon, Dragon Ball, Power Ranger, dll. Tapi itu dulu. Sebelum wabah smartphone melanda seperti sekarang ini.

Sadar tidak sadar, pastinya Kalian bakal refleks membandingkan masa kecil Kalian dulu dengan masa kecil anak-anak masa kini. Bila dulu untuk bermain Kalian menggunakan kelereng, kayu, batu, dan layangan, nah anak masa kini malah lebih ke arah permainan dalam bentuk digital.

Saat ini sudah sangat jarang kita temukan anak-anak yang memainkan permainan masa kecil kita dulu. Mengapa? Karena Smartphone, Ipad bahkan Laptop telah menjadi cemilan bagi anak-anak masa kini.

Walapun kini smartphone seakan menjadi kebutuhan, anak-anak masa kini mungkin juga masih ada yang bermain layangan ataupun bermain kelereng. Namun tak banyak permainan masa kecil anak 90-an yang masih bertahan di tengah persaingan teknologi seperti sekaramg ini. Lalu, permainan tradisional seperti apa sih yang sudah sangat jarang dimainkan oleh anak-anak masa kini? Atau bisa dibilang permainan tersebut telah hampir punah. Permainan apa sajakah itu?

1. Bom

Permainan Tradisional BOM
Sumber: Kopi-ireng.com

Bisa dibilang permainan ini adalah permainan favorit bagi mereka yang lahir di tahun 90-an. Permainan ini lebih sering dimainkan oleh anak lelaki ketimbang anak perempuan karena permainan ini menuntut perencanaan strategi tiap tim dan kekuatan berlari dari tiap-tiap pemain. Walau demikian, sebenarnya anak perempuan pun ada yang ikut memainkan permainan ini. Di Makassar, Permainan yang dimainkan oleh dua tim ini dinamakan permainan ‘Bom’. Di daerah lain, ada yang menyebutnya ‘Benteng’.

Untuk memainkan permainan ini, terlebih dahulu dibentuk 2 tim yang tiap timnya berisi 4 orang atau lebih. Kemudian tiap-tiap tim memiliki sebuah benda yang harus dijaga, biasanya menggunakan batu. Nah, tiap tim juga memiliki batas wilayah yang telah disepakati bersama. Dan tiap pemain yang memasuki wilayah lawan dan tersentuh, maka harus ditahan sampai rekan satu timnya menyelamatkan dengan menyentuhnya kembali. Tim yang paling banyak menginjak batu yang dijaga oleh lawannya adalah pemenang dari permainan ini.

2. Dende

dende
Sumber: tradisional.konsep.com

‘Dende’ adalah salah satu permainan tradisional yang populer pada masanya dan paling banyak dimainkan oleh anak perempuan.  Di daerah lain, permainan ini disebut ‘Engklekan’. Biasanya ‘Dende’ dimainkan hingga empat atau lima anak. Untuk memainkan permainan ini, terlebih dahulu digambarkan petak-petak pada tanah atau lantai sesuai dengan dende seperti apa yang hendak dimainkan. Kemudian petak-petak inilah yang nantinya para pemain harus lompati, entah itu dengan satu kaki atau dua kaki. Aturan permainan menyesuaikan bentuk petak atau dende seperti apa yang dimainkan. Yang paling banyak memiliki petak adalah pemenang dari permainan ini.

3. Lompat Karet

lompat karet
Sumber: firmanabdurahman.wordpress.com

Permainan tradisional yang satu ini banyak dimainkan oleh anak perempuan. Di luar Makassar, permainan ini dinamakan lompat tali. Namun di Makassar, lebih dikenal dengan sebutan lompat karet. Sesuai dengan namanya, permainan ini membutuhkan banyak karet gelang yang dirangkai atau digabungkan hingga mencapai panjang yang diinginkan.

Lompat karet ini biasa dimainkan oleh tiga orang atau lebih. Siapa yang melompat pertama ditentukan sesuai kesepakatan bersama. Jadi, dua orang di antaranya harus memegang ujung-ujung karet yang telah dirangkai tersebut untuk dilompati oleh pemain yang memiliki giliran pertama. Ketinggian karet yang harus dilompati memiki tahapan-tahapan, mulai dari mata kaki hingga mencapai kepala pemegang karet. Pemain yang melompat tidak boleh menyentuh karet. Bila itu terjadi, gilirannya untuk melompat harus terhenti dan kemudian digantikan oleh pemain yang memiliki giliran melompat berikutnya.

Jika semua pemain telah melewati semua tantangan melompat dengan ketinggian paling akhir, maka permainan akan diulang dari awal lagi atau dihentikan (sesuai kesepakatan para pemain).

4. Enggo’-Enggo’

Permainan Tradisional Enggo'-Enggo'
Sumber: bintangpratamatour.com

Salah satu permainan seru yang populer pada masanya adalah Enggo’-Enggo’. Di luar Makassar, permainan ini dikenal dengan nama ‘petak umpet’. Bisa dibilang inilah salah satu permainan tradisional yang legendaris. Permainan ini makin seru bila dimainkan oleh banyak orang. Pada permainan Enggo’-Enggo’ ini ada seseorang yang bertugas untuk menjaga, kemudian mencari pemain lain yang bersembunyi. Sebelum pemain-pemain lain bersembunyi, yang bertugas harus menutup mata dan menghitung hingga 10. Setelah hitungan kesepuluh, mulailah dia mencari mereka yang bersembunyi. Yang tertebak pertama kali adalah yang akan bertugas menjaga dan mencari para pemain di ronde selanjutnya.

5. Gebo’

Permainan Tradisional Gebo'
Sumber: Tribunnews.com

Bisa dibilang, permainan ini yang paling menyakitkan. Karena permainan Gebo’ ini menggunakan bola kasti untuk melempar badan orang yang ditarget. Tidak ada aturan pasti dalam permainan ini. Karena mereka yang mendapatkan bola kasti tersebut dapat  melempar target yang dia inginkan. Dan permainan akan semakin seru ketika yang mendapatkan bola tersebut memiliki dendam untuk membalas siapa yang melemparnya sebelumnya.

Selain dimainkan di lapangan, biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak lelaki di ruang kelasnya ketika guru sedang tidak masuk mengajar saat itu.

6. Cangke’

Permainan Tradisional Cangke'
Sumber: porosbumi.com

Permainan tradisional yang satu ini biasanya dimainkan oleh anak lelaki. Di Makassar, permainan ini dinamakan Cangke’. Sedangkan di daerah lain, permainan ini dikenal dengan nama ‘Gatrik’. Sebelum memulai permainan, biasanya akan dibentuk 2 tim, yang tiap timnya terdiri atas 3 orang atau lebih. Untuk memainkan Cangke’ ini, diperlukan 2 stik (biasanya menggunakan kayu atau bambu). Stik yang pertama agak panjang (sekitar 30 cm), sedangkan stik yang kedua lebih pendek (ukurannya, setengah dari ukuran stik yang pertama). Selanjutnya dibuat lubang atau bisa menggunakan 2 batu bata bersebelahan untuk meletakkan stik yang kecil tadi, yang nantinya akan dicungkil dan dipukul hingga melayang. Cara bermain cangke’ ini agak sedikit ribet, namun seru. Diakhir permainan, tim yang kalah akan menggendong tim yang menang dengan jarak yang telah disepakati.

Gimana? Kangen gak sama permainan-permainan di atas? Sebelum permainan tersebut benar-benar punah, mengapa tak mencoba untuk melestarikan kembali permainan-permainan ini? Salah satu caranya adalah dengan menceritakan dan mengajarkan pada adik Kalian bahwa ada permainan-permainan tradisional yang lebih asyik dan seru ketimbang hanya bermain gadget. Bila Kalian punya adik yang masih duduk di bangku SD, bolehlah Kalian ngajarin mereka permainan-permainan ini pada mereka. Biarkan mereka merasakan betapa serunya permainan-permainan masa kecil Kalian dulu.

Selain kepada-Nya, jangan terlalu percaya pada siapapun. Follow me on Instagram: @ilayahya_