Warisan Sejarah di Makassar

 
0

Setiap peristiwa menyimpan sejarah, selain mata dan benda, beberapa tempat tak lepas dari perannya sebagai saksi bisu akan sebuah peristiwa penting di masa lalu. Beberapa peninggalan berupa bangunan membawa kita kembali menyelami dimensi lampau.

Makassar merupakan kota yang memendam banyak sejarah penting, menjadi salah satu kota yang sempat diduduki penjajah membuat tanah Sulawesi Selatan ikut andil menyimpan kisah-kisah yang patut diingat oleh seluruh masyarakat.

Tindakan merubah situs sejarah menjadi situs wisata yang edukatif merupakan sebuah langkah yang tepat pada masa dimana kepedulian akan sejarah mulai memudar. Pengelolahan yang maksimal terhadap suatu situs sejarah tak hanya mampu menarik minat wisatawan lokal. Kenyataannya, wisatawan mancanegara pun tak segan untuk mampir sembari mengintip beberapa bangungan peninggalan sejarah yang ada di Sulawesi Selatan, khususnya Makasassar.

Artikel kali ini akan menunjukkan beberapa tempat warisan sejarah yang dapat dikunjungi saat kamu berada di Makassar.

1. Fort Rotterdam

Fort Rotterdam via makassar.tribunnews.com

Merupakan sebuah bangungan berbentuk benteng yang terletak di pinggir pantai sebelah barat kota Makassar. Benteng Fort Rotterdam merupakan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Di dirikan pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9  I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna.  Benteng ini berbentuk seperti penyu sebagai simbol bahwa Kerajaan Gowa sama seperti penyu yang mampu hidup di darat ataupun di laut.

Awalnya struktur bangunannya merupakan tanah liat, namun seiring dengan berjalannya waktu, strukturnya diganti oleh batu padas yang berasal dari pengunungan Karst di daerah Maros.

Awalnya benteng ini dinamai dengannama Benteng Ujung Pandang, sementara orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua.

Kerajaan Gowa-Tallo menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Nama Fort Rotterdam sendiri muncul ketika Belanda menempati benteng ini. Cornelis Speelman merupakan orang yang mengubah nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam, ia sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Di bawah kekeusaaan Belanda, Fort Rotterdam beralih fungsi dari benteng pertahanan menjadi tempat penyimpanan rempah-rempah.

Kini Fort Rotterdam menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menjadi favorit wisatawan. Keaslian bentuk bangunan, ditunjang dengan hadirnya beberapa mesum yang menyimpan benda-benda peninggalan sejarah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

2. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu via indonesiaexplorer.net

Peninggalan Kesultanan Gowa yang satu ini dibangun oleh Raja Gowa ke-9  Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna pada sekitar abad ke-16.Sempat menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan dimana rempahrempah yang disalurkan untuk beberapa pedagang baik dari Asia, sekitar Indonesia dan wilayah Eropa.

Pada tahun 1669, VOC menguasai wilayah dagang ini, kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an pun benteng ini ditemukan kembali oleh beberapa ilmuwan yang berkunjung ke tempat ini.

Sekitar tahun 1990, Beteng Somba Opu kembali dikelola hingga tampak terlihat lebih baik. Sampai sekarang, Benteng Somba Opu tidak pernah sepi pengunjung. Beberapa bangunan rumah adat Makassar dan sebuah meriam yang ada menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi wisata kebanggaan.

3. Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro via hellomakassar.com

Sebenarnya untuk hal yang satu ini masih mengundang pro dan kontra, karena beberapa kalangan menganggap bahwa makam Pangeran Diponogoro yang asli bukanlah di Makassar, melainkan di Sumenep. Beberapa bukti yang sering diperdebatkan akan keaslian makam juga sempat menjadi sorotan pada masanya.

Namun, semua itu lantas tak mengurangi rasa hormat masyarakat akan sosok Pangeran Diponogoro yang terkenal akan kegigihannya saat masa penjajahan.  Sampai saat ini makam beliau dijaga oleh pengelola sehingga selalu tampak rapi dan bersih, tertelak tepat di samping makam R.A Ratu Ratnaningsih yang wafat pada tahun yang sama yaitu 1855. Nisan dan makan Pangeran Dipinogoro dibentuk mengikuti gaya jawa dengan sentuhan ukiran khas kerajaan.

Jika ingin berkunjung datanglah ke Jl. Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan.

4. Monumen Mandala

Monumen Mandala via panduanwisata.id

Tak jauh dari lapangan karebosi, terdapat sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang pembebasan Irian Barat dari tangan penjajah sekaligus hadiah untuk Presiden Republik Indonesia yang ke-2, Soerharto yang merupakan Panglima Komando Mandala yang mengambil peran besar dalam menyusun strategi pembebasan Irian Barat. Puncak Monumen yang mirip seperti kobaran api merupakan lambang semangat pada saat membebaskan Irian Barat.

Monumen Mandala resmi berdiri pada tahun 1996 setelah memakan waktu pembangunan kurang lebih 3 tahun. Tinggi Monumen ini berkisar 75 meter membuat bangunan ini terlihat jelas saat memasuki wilayah pusat kota Makassar.

Monumen ini terdiri dari 4 lantai, pada lantai satu terdapat relief yang menggambarkan tentang proses perjuangan pembebesan Irian Barat dari tangan Belanda. Sementara di lantai 2 dan 3 terdapat replika ruang kerja dari Panglima Mandala lengkap bersama dengan foto-foto pada saat oprasi Mandala. Naik ke lantai 4, merupakan lokasi dimana kita bisa melihat pemandangan kota Makassar dari ketinggian kurang lebih 73 meter.

Sayangnya, saat ini Monumen tersebut sudah jarang dibuka lagi. Pintu utama menuju monumen lebih sering terlihat tertutup rapat. Tetapi beberapa orang masih sering berkunjung kemari untuk mengabadikan gambar. Selain itu, Monumen Mandala juga sering menjadi lokasi beberapa acara besar seperti lari marathon atau pameran tahunan.

5. Monumen Korban 40.000 Jiwa

Monumen Korban 40.000 Jiwa via rakyatku.com

Didirikan dengan tujuan mengenal sebuah peristiwa penting pada tahun 2946 sampai dengan 1947 dimana pasukan Belanda membantai ribuan jiwa dalam Oprasi Penumbasan Peberontak yang dipimpin oleh Kapten Raymon Paul Piere. Peristiwa ini menjadi salah satu lembar kelam yang menyisahkan luka dan kepedihan mendalam bagi masyarakat Sulawesi Selatan pada masa itu.

Meski sebenarnya jumlah 40.000 jiwa pada masa itu masih menimbulkan pertanyaan dari beberapa pihak. Tetapi, Monumen ini tetap menjadi bentuk akan kekejaman penjajah pada masa lampau terhadap pribumi.

Monumen Korban Pembantaian 40.000 jiwa ini berada di wilayah yang asri dan tertata rapi, tempatnya terawat dan sangat nyaman untuk para pengunjung yang ingin mampir. Di tempat ini juga berdiri beberapa bangunan seperti pendopo, monumen dan relief tentang suasana pembataian pada masa itu menghiasi beberapa sudut dinding. Serta salah satu sisi bangunan, berdiri salah satu patung yang tingginya sekitar 4 meter. Patung tersebut menggambarkan seorang korban yang selamat dari pembantaian dengan kaki yang buntung serta tangannya menggunakan penyangga.

Rugi jika saat berada di Makassar tetapi kamu belum mengujungi tempat-tempat berserjarah yang dimiliki kota ini. Meski jaman telah mempermudah kita untuk meraih informasi akan hal-hal yang bersifat sejarah, tak ada salahnya kita juga menyempatkan diri untuk menunjungi langsung tempat-tempat tersebut.

Toh, infromasi yang kita dapatkan secara langsung dan hasil penelitian data akan tampak perbedaannya. Untuk itu, mulai sekarang masukkanlah situs sejarah sebagai lokasi tujuan wisata kamu.

(Asabell Audida) Seorang mahasiswi perguruan tinggi Universitas Hasanuddin Makassar jurusan Sastra Inggris (2014), aktif menulis fiksi remaja di wattpad.com/asabelliaa