Halo buat Kamu yang merasa masyarakat asli Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Tana Toraja), sudah pada paham ng sih makna dari Siri’Na Pacce itu sendiri? Apa sih sebenarnya Siri’Na Pacce itu? Mengapa para leluhur sangat menjunjung tinggi akan Budaya tersebut? Sejauh mana peran Siri’Na Pacce dalam pembentukan dan perkembangan Karakter masyarakat? Nah, makin penasaran kan? Untuk itu, mari  sejenak Kita kembali melirik sejarah, karena Sejarahlah yang akan menjadikan manusia lebih berarti dan lebih terkendali.

Guys, Siri’Na Pacce itu bukanlah sebuah Jargon asal-asalan dari Sulawesi Selatan yah, melainkan sebuah pegangan bahkan Falsafat budaya yang harus dijunjung tinggi. Bahkan Siri’Na Pacce merupakan sebuah jargon yang mencerminkan akan watak dan kelakuan masyarakat Sul-Sel. Mengapa demikian? Perlu Kita mengingat kembali arti secara kata dan bahasa dari Siri’Na Pacce itu sendiri. Siri’ berarti  rasa malu (harga diri), sementara Pacce atau dikenal akrab dalam bahasa Bugis adalah Pesse yang memiliki makna pedih/pedas (keras, kokoh atau teguh pendirian) sehingga dapat dimaknai secara menyeluruh sebagai suatu paham kecerdasan emosional untuk turut serta merasakan kepedihan atau kesusahan yang dialami individual lain dalam suatu perkumpulan (solidaritas dan empati). Makna Siri’ versi Makassar  atau Bugis adalah “Malu”, sedangkan Pacce bermaknakan tidak tegaan, kasihan atau pun rasa iba.

Pengertian secara umum dari kata  system Siri’Na pacce sebenarnya masih sangat bersifat abstrak dan tabu karena hanya dapat dirasakan dan dipahami oleh penganut budaya tersebut. Masyarakat asli Bugis-Makassar memberikan sebuah pembelajaran akan moralitas kesusilaan yang dapat berupa anjuran, himbauan, larangan, kewajiban dan hak yang mendominasi tindakan manusia untuk terus dapat bahkan mampu menjaga dan mempertahankan diri dan kehormatan yang dimilikinya. Siri’ adalah  sebuah rasa malu yang terurai dalam  ruang-ruang dimensi harkat dan martabat lahiriah manusia. Pacce mengajarkan  akan rasa kesetiakawanan serta kepeduliansosial tinggi tanpa mesti lahirnya unsur egoisme atau individualisme untuk mementingkan diri sendiri dan golongan agar mampu bertahan hidup dan disegani  berada jauh daritempat tinggal (merantau),  pacce juga merupakan sifat kasih sayang dan perasaan menanggung beban dan penderitaan yang dirasakan orang lain. Secara turun temurun yang mendasari akan sebuah pegangan hidup masyarakat sulsel dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Jika dalam suatu generasi atau golongan yang telah meleset akan pemahaman Siri”Na Pacce ini maka akan berdampak buruk dan berimbas ke generasi selanjutnya dan terjadi degradasi integritas pemahaman yang tidak bermoral bahkan tidak bermartabat lagi. Hal inilah yang menjadi sebuah ketakutan besar akan perubahan paradigm-paradigma Siri’Na Pacce untuk kalangan anak-anak penerus masa depan. Penanaman moral dan akhlak serta pemahaman arti Siri”Na pacce sejak lahir adalah solusi untuk memecahkan masalah dan kekhawatiran akan rusaknya generasi selanjutnya dan nilai-nilai yang diyakini tetap bisa menjadi pedoman, pegangan serta ciri khas masyarakat Bugis-Makassar.

Dasar-dasar penjiwaan dan pemaknaan hidup diprakarsai oleh pedoman-pedoman masyarakat Bugis-Makassar untuk bertahan dalam proses melangsungkan hidup di Negeri sendiri maupun di Negeri orang lain. Yang harus memiliki jiwa tangguh dan berani tanpa mengenal lelah dan bekerja keras. Sehingga sangat terkenal bahwasanya darah Bugis-Makassar pantang untuk menyerah, serta memiliki tujuan hidup yang tidak mudah goyah bahkan terjerumus dengan keadaan lingkungan dan sosial sekitar.

Siri”Na Pacce memiliki Struktur dalam Budaya Bugis Makassar yaitu:

1. Siri’ Ripakasiri

Siri’Ripakasiri lebih ke harga diri serta harkat & martabat keluarga. Artinya, ketika ada yang melakukan sesuatu yang tidak senonoh (tabu) dan pantangan. Misalnya membawa lari anak gadis perempuan (silariang), maka hukuman mati (nyawa) untuk kedua pasangan tersebut karena telah mencoreng harga diri dan martabat keluarga. Atau contoh lain, misalnya kasus penganiyaan yang berakibat buruk, membunuh salah satu nyawa dari keluarga lain maka harus dibalas dengan nyawa pula. Ini lebih ke filosofi hutang (darah dibalik dengan darah).

Dalam keyakinanan masyarakat bahwasanya kematian yang dibalas tersebut merupakan kematian syahid atau istilah bugisnya adalah Mate Risantangi (Mate Rigollai) bahwa kematian ibarat yang terbalut dengan santan ataupun gula sebagai bukti menegakkan siri’ keluarga mereka. Itulah yang dipercaya Kesatria sejati.

2. Siri’Mappakasiri’siri

Siri’Mappakasiri’siri lebih ke  Siri’ Tappela Siri (Makassar) atau Siri’ Teddeng Siri (Bugis). Artinya terusiknya rasa malu seseorang tersebut akibat sesuatu yang telah diucapkan sebelumnya namun belum ditepati. Misalnya hutang yang belum ditepati dan melewati waktu kesepakatan, maka timbullah rasa malu yang lebih dalam. Orang Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Siri’. Apabila berhutang, tidak perlu melakukan tagihan karena si pelaku akan datang membayar utangnya tanpa ditagih. Hal ini mencerminkan bahwa etos kerja yang tinggi (Sekali layar terkembang maka pantang biduk surut ke pantai sebelum tercapai pulau harapan).

3. Siri’Masiri

Pandangan hidup seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan suatu prestasi dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga dengan memberikan segala daya upaya demi siri’ itu sendiri. Seperti halnya dengan penggalan syair “Takunjunga’ bangun turu’ nakugunciri’ gulingku Kuallengi syair sinrili’ “Takunjubga’ banging turu’ Nakugunciri’ gulingku Kuallengi Tallanga Natoalia” yang Berarti “Layarku telah kukembangkan, kemudiku telah kupasang aku memilih tenggelam dari pada melangkah surut”. Semboyan tersebut melambangkan akan tekad dan keberanian yang tinggi, teguh pula dalam mengarungi berbagai lika-liku kehidupan.

4. Siri’Mate Siri

Siri’Mate Siri artinya orang yang telah hilang rasa malu dalam dirinya sehingga dapat melakukan berbagai hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan-ketentuan dan adat hukum hidup masyarakat Bugis-Makassar. Biasanya orang yang telah mati rasa malunya disebut sebagai bangkai kehidupan sehingga diibaratkan ke manapun pergi akan tercium aroma tidak sedap (busuk) seperti dengan perilaku KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme).

Selain itu, struktur Siri’Na Pacce melahirkan tiga nilai- nilai kehidupan yang terkandung dalam budaya yang dijadikan sebagai suatu pedoman hidup masyarakat Bugis, yaitu:

– Nilai Filosofis

Siri’na Pacce menjadi sebuah pandangan hidup orang-orang Bugis dan Makassar terhadap berbagai persialan yang dialami. Baik meliputi watak orang Bugis-Makassar yang bersifat militant, optimis, aktif dan konsisten, setia bahkan konstruktif dan pemberani yang tangguh.

– Nilai Etis

Ke-etisan atau keindahan dalam perilaku Bugis-Makassar sangatlah mencermikan dirinya sebagai keturunan kerajaan atau keturunan orang-orang baik. Karena ini menunjukkan bahwa ia memiliki jiwa yang teguh dan komitmen yang tinggi terhadap apa yang telah di-iyakan atau disepakati. Baik itu pada diri sendiri maupun kelompok yang senantiasa setia, disiplin, mengutamakan kejujuran dan kueletan kerja, bijak, rendah hati, sopan santun dan empati terhadap sesama, serta cinta tanah air.

– Nilai Estetis

Nilai estetis yang dimaksud lebih ke nilai non-insane, yang terdiri dari benda alam yang tak bernyawa, serta benda alam nabati dan hewani yang menjadi sebuah budaya leluhur yang takkan hilang. Manakala harga diri masyarakat Bugis-Makassar hilang, maka telah ternodai. Sehingga melahirkan aspek-aspek Siri’ yang telah mengalami malu tersebut, dan wajib hukumnya melakukan penembusan penghapusan noda dengan upaya mufakat bersama keluarga. Jika melewati batas kemanusiaan, maka dilakukan upaya dalam bentuk kekuatan (hukum maupun perseorangan). Sehingga pihak keluarga yang menjadi korban Siri’ akan merasa sedikit lega dan apabila tidak ada usaha dan upaya sekaligus, maka akan dijuluki sebagai orang yang tena Siri’na (tidak ada malunya).

Nah sebagai warga Sulawesi Selatan, Kita sangat perlu memahami filsafat dan pedoman hidup Kita dalam berbudaya dan bermasyarakat. Karena dapat disimpulkan bahwasanya Siri’na Pacce adalah sebuah peranan Siri’ alam bawah sadar yang mencirikan dan mengatur berbagai nilai-nilai berperilaku, bermasyarakat dan perwujudan dari manusia terutama masyarakat Bugis-Makassar. (Refleksikan dan Maknai Siri’na Pacce dalam setiap tindakan dan sikap Kita) Masyarakat Bugis-Makassar pantang Mappakasiri’siri. Ewakoo Makassar. Salam hangat dari Penulis.

riskayuli nurvianthi

Penulis, Peneliti, Pengajar, volunteer, suka tantangan dan petualang.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us