Your Theme License is INVALID or EXPIRED

Mengenang Kembali Masa Indah Bermain Kelereng

 
0

Tentu saja Anda sudah sangat tidak asing lagi dengan permainan yang satu ini. Bentuknya yang bulat, kecil dan berwarna-warni bisa dengan mudah membangkitkan kembali perasaan nostalgia akan masa kecil. Kelereng atau gundu merupakan permainan yang bisa ditemui dibelahan dunia manapun dan merupakan salah satu permainan tertua di dunia yang telah ada sejak zaman Mesir kuno. Di Indonesia sendiri kelereng dikenal dengan berbagai macam nama seperti, gundu, guli, keneker, kelici dan umumnya terbuat dari bahan kaca atau marmer dengan berbagai macam ukuran.

Kepopuleran serta mudahnya akses ke permainan ini membuat kelereng digemari oleh banyak anak di Indonesia. Terkhusus untuk daerah Makassar dan sekitarnya permainan ini disebut a’baguli’ dan menjadi permainan wajib sebelum memasuki waktu maghrib bagi anak-anak Makassar. Sangat banyak istilah dalam Bahasa makassar yang berasal dari permainan ini. Jenis permainannya pun sangat beragam dan berbeda-beda di setiap daerah. Nah, kali ini kami akan membahas sedikit mengenai beberapa hal menarik dari permainan a’baguli’ di Makassar untuk menyegarkan kembali ingatan masa kecil Anda tentang permainan kelereng ini. Semoga setelah membaca artikel kami Anda menjadi tertarik untuk kembali memainkan permainan yang sudah mulai jarang ditemui ini.

1. Aturan & Jenis Permainan

Siapa sangka kelereng yang berukuran kecil ini bisa dimainkan dengan berbagai macam cara dan teknik jika sudah berada di tangan anak-anak. Di Makassar sendiri saja ada sangat banyak cara untuk memainkan kelereng ini dengan berbagai istilahnya masing-masing. Berikut ini kami akan membahas dua jenis permainan yang kami anggap paling populer di kalangan anak Makassar yaitu Rutta’ dan Ulu-ulu.

Rutta

Rutta via www.permainan-tradisional.com

Di daerah Makassar, Maros dan sekitarnya permainan ini disebut Rutta sedangkan untuk daerah Gowa dan Takalar permainan ini disebut juga dengan nama Taru’. Jenis permainan ini adalah yang paling populer dimainkan karena cara bermainnya yang sangat mudah dan dapat menampung banyak pemain. Permainan dimulai dengan membuat lingkaran yang lalu diisi dengan kelereng taruhan (tannang). Banyaknya jumlah kelereng tannang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama dan umumnya berisi 2-3 tannang per orang. Pemain kemudian secara bergiliran melemparkan kelereng patta’ba’ mereka ke tanah untuk menentukan giliran. Pemain yang kelereng patta’ba’ nya paling jauh dari lingkaran mendapat giliran pertama dan yang terdekat akan mendapat giliran terakhir. Pemain kemudian secara bergiliran menyentil (datte’) kelereng patta’ba’ ke dalam lingkaran untuk mengeluarkan sebanyak mungkin kelereng dari lingkaran. Kelereng yang keluar dari lingkaran ini lalu menjadi milik pemain yang mengeluarkannya dari lingkaran. Namun, jika ada pemain yang kelereng patta’ba’ nya tertinggal dalam lingkaran, maka semua kelereng pattannang tersebut menjadi haknya dan permainan dimulai kembali dari awal. Hal inilah yang disebut dengan istilah Rutta yang kemudian menjadi nama dari permainan ini.

Ulu-ulu

Ulu-Ulu via sulsel.pojoksatu.id

Ulu yang dalam bahasa Makassar berarti kepala, sesuai dengan namanya permainan yang satu ini dimainkan dengan cara menggambar sebuah garis lurus di tanah lalu salah satu ujungnya ditandai sebagai kepala (ulu). Aturan bermainnya tak jauh berbeda dari Rutta. Mula-mula pemain memasang taruhan masing-masing sebuah kelereng sejajar dengan garis yang telah dibuat tadi. Para pemain lalu melemparkan kelereng patta’ba mereka untuk menentukan giliran yang caranya kurang lebih sama dengan Rutta’ namun, digunakan juga istilah seperti dillas (terakhir) rampikna dillas (sesudah dillas) dan lain sebagainya. Secara bergiliran mereka lalu men datte’ kelereng mereka ke garis tadi. Kelereng yang keluar dari garis tersebut kemudian menjadi milik pemain yang mengeluarkannya. Jika mengenai barisan kelereng, pemain berhak atas kelereng tersebut. Mulai dari titik yang dikenai hingga kebelakang, dihitung dari ulu.

2. Istilah-Istilah dalam bermain Kelereng

  • Amba’ : berarti giliran untuk menembakkan kelereng ke dalam lingkaran berdasarkan urutan jauhnya lemparan kelereng.
  • Dillas : Giliran melempar kelereng untuk menentukan urutan amba’ ditentukan dengan cara rebutan menyebut dillas!, rampikna dillas! dan seterusnya.
  • Patta’ba’/Pattappa’ : Patta’ba’/Pattappa’ adalah kelereng yang dijadikan penembak dan digulirkan ke dalam lingkaran dengan cara di datte’.
  • Datte’ : Cara yang digunakan untuk menggulirkan kelereng, yaitu dengan menyentil kelereng sekeras mungkin ke sasaran. Setiap orang biasanya mempunyai cara khas tersendiri dalam men datte’ yang berbeda satu sama lain.
  • Tannang : Secara harfiah tannang berarti taruhan adalah jumlah kelereng yang dijadikan taruhan dalam satu kali permainan. Biasanya berjumlah 2-5 butir perorang.
  • Risteng : Berasal dari bahasa inggris Restand yang berarti perubahan posisi. Perubahan posisi ini biasa dilakukan saat sebuah benda menghalangi kelereng patta’ba’ dan dilakukan berdasarkan kesepakatan dari semua pemain dengan estimasi jarak yang tidak begitu jauh dari posisi semula.
  • Gallang : keadaan dimana seorang pemain harus menunggu satu putaran permainan karena jumlah kelereng pemain tersebut tidak mencukupi kuota taruhan (tannang). Biasanya jika kelereng mereka kurang dari dua butir, mereka menyerahkan berapapun sisa kelereng mereka dan menunggu satu putaran berharap ada kelereng tannang yang tersisa untuk mereka. Keadaan ini lah yang kemudian dikenal dengan nama Gallang Santa’.
  • Poko’ : Syarat jumlah modal kelereng saat pertama kali bermain biasanya minimum 3 kali lipat dari jumlah tannang.
  • Timpolo’ : Saat pemain menembakkan kelerengnya ke bagian tengah sasaran dengan sangat keras sehingga kelereng memantul jauh dari tempatnya.
  • Gompo : Kondisi dimana kelereng Tannang sangat banyak dan membentuk satu gumpalan (Gompo) besar yang sulit untuk dihamburkan.
  • Dor : Saat seorang pemain mengenai badan dari pemain lain sehingga kelerengnya tidak masuk ke dalam lingkaran. Mereka diberikan kesempatan sekali lagi untuk meng amba’ dengan cara dilempar atau di datte’.

3. Jenis-Jenis Kelereng

Tahukah Anda kalau ternyata kelereng ini tak hanya punya satu jenis saja? Benar sekali, ternyata ada cukup banyak jenis kelereng yang masing-masing punya keunikannya sendiri.

Kelereng Biasa

Kelereng Biasa via www.boombastis.com

Kelereng ini adalah yang paling sering digunakan dan sangat mudah ditemui di mana saja. Terbuat dari bahan kaca bening dan mempunyai 3 macam corak warna dibagian dalamnya yang menjadi ciri khas dari kelereng ini.

Kelereng Susu

Kelereng Susu via www.dzargon.com

Alih-alih bening, kelereng ini berwarna putih pekat seperti susu dan terbuat dari bahan marmer. Dibagian luarnya juga terdapat lengkungan 3 macam warna. Kelereng susu ini biasanya dihargai lebih mahal 2 kali lipat dari kelereng biasa.

Baguli Cilla’

Baguli Cilla’ via www.aliexpress.com

Dilihat dari tampilannya sudah dapat diketahui bahwa kelereng yang satu ini beda dari kelereng biasa. Permukaannya yang mengkilap membuat kelereng yang satu ini banyak dicari. Jenis kelereng ini dianggap paling mewah karena selain tampilannya yang menarik kelereng ini juga sulit ditemui. Harganya pun bisa mencapai 5 kali lipat harga kelereng biasa.

Kelereng Besar dan Kecil

Ukuran Kelereng via www.boombastis.com

Ukuran dari kelereng juga berbeda-beda ada yang sebesar bola ping pong dan ada juga yang ukurannya 2 kali lebih kecil dari kelereng biasa. Kelereng yang seperti ini biasanya tidak digunakan untuk bermain namun hanya dijadikan bahan koleksi saja.

Nah, apakah Anda tergoda untuk memainkan kembali permainan yang tidak dapat ditemui di appstore atau playstore manapun ini? Jika iya, sebaiknya Anda mengajak teman-teman Anda agar perminannya lebih seru.

 

 

 

Seorang Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar yang akrab disapa Ivanden. Telah aktif menulis sejak duduk di bangku SMA namun belum memiliki karya yang dipublikasikan. Selain Menulis ia juga mempunyai minat di bidang Fotografi.